Jakarta, 28 September 2026 – Hampir setiap perusahaan hari ini sudah memakai AI. Tim marketing memakainya untuk membuat konten, tim keuangan untuk menyusun rumus di spreadsheet, tim sales untuk menyiapkan draf proposal, dan tim supply chain untuk merangkum laporan stok. Namun, memakai AI belum tentu berarti organisasinya berubah.
Topik ini yang menjadi sorotan dalam acara Industry NeXT: Connected, Integrated & Intelligent — Transforming Operations with Connectivity, ERP, Cloud & AI, yang diselenggarakan oleh Indonet, Alibaba Cloud, dan Penta Sinergi Grup pada 23 September 2026 di Grand Zuri Jababeka, Bekasi.
Acara ini menghadirkan Faisal Iqbal, Lead Software Engineer untuk HRK (robust-AI) dan Kevin Khosy, Project Manager NTX Solusi Teknologi sebagai pakar sekaligus praktisi operasional AI di Penta Sinergi Grup.

AI ada di mana-mana, tetapi belum menjadi AI organisasi
Saat ini, di banyak perusahaan, AI hadir secara individual. Entah pribadi ataupun difasilitasi perusahaan, setiap orang menggunakan AI pilihannya sendiri, dan produktivitas pribadi memang meningkat. Namun proses kerja di belakangnya tidak ikut berubah: data tetap tersebar, langkah tetap manual, dan hasil kerja tiap orang belum tersambung menjadi hasil bagi perusahaan.
Inilah yang disebut jebakan adopsi AI. Tugas-tugas sudah dioptimalkan, tetapi prosesnya belum dirancang ulang, sehingga dampak bagi perusahaan tetap terbatas. Organisasi sudah memiliki AI di mana-mana, tetapi belum berdampak secara organisasi.
Kecerdasan saja belum cukup
Insight yang baik belum otomatis menghasilkan hasil bisnis. Perjalanan dari data menuju tindakan dapat dipetakan lewat enam pertanyaan: apa yang terjadi (describe), mengapa terjadi (diagnose), apa yang mungkin terjadi berikutnya (predict), apa yang sebaiknya dilakukan (recommend), apa yang dapat dieksekusi oleh AI (act), dan apa yang perlu berubah pada siklus berikutnya (learn). Nilai terbesar muncul ketika insight bersambung menjadi eksekusi dan pembelajaran berkelanjutan.
Agar itu terjadi, AI perlu berada di dalam proses, bukan di sampingnya. Ada empat lapisan yang perlu hadir bersama: data dari ERP, CRM, spreadsheet, dokumen, dan sumber eksternal; intelligence yang membaca, bernalar, merekomendasikan, dan memprediksi; orkestrasi yang menjalankan alur kerja, aturan, persetujuan, dan tindakan; serta governance yang mencakup hak akses, keputusan manusia, jejak audit, dan pemantauan. Lapisan terakhir bukan pelengkap. Di sanalah peran manusia dan akuntabilitas ditempatkan secara sengaja.
Unit transformasi bergeser dari tugas ke proses bisnis

Seberapa besar dampak AI bergantung pada seberapa jauh ia masuk ke pekerjaan: dari tugas, ke alur kerja, ke proses bisnis, ke organisasi, hingga hasil bisnis. Pada contoh pengadaan, di level tugas seorang pembeli meminta AI menyusun draf tindak lanjut ke vendor. Di level alur kerja, asisten yang sama mengambil tenggat penawaran dari ERP. Di level proses bisnis, seluruh alur dari permintaan hingga pembayaran dirancang ulang.
Semakin jauh AI masuk ke proses ujung ke ujung, semakin besar perubahan organisasi yang mungkin terjadi. Semakin besar pula pentingnya pertanyaan tentang siapa yang memegang keputusan.
Manusia dan AI: kemitraan yang bertingkat
Bagian ini yang menjadi inti pesan dari Industry NeXT lalu. Kemitraan manusia dan AI bukan satu pola tunggal, melainkan dapat terbagi menjadi tiga tingkat:
- AI Assisted: AI mempercepat, manusia yang mengerjakan. Misalnya menyusun draf, merangkum, mencari data, dan analisis dasar.
- AI Collaborative: AI menganalisis dan merekomendasikan, manusia memutuskan. Misalnya analisis lanjutan, penyusunan opsi, rekomendasi, dan penanganan pengecualian.
- AI Operated: AI mengeksekusi dalam batas yang ditetapkan. Misalnya menjalankan alur kerja, memproses transaksi, memantau, serta mengirim peringatan dan eskalasi.
Prinsipnya sederhana: AI membawa kecepatan dan skala, sementara manusia membawa penilaian dan akuntabilitas. Bahkan pada tingkat AI Operated, manusialah yang menetapkan dan memantau batasnya.
Cara pandang yang sama berlaku ketika kecerdasan naik dari level aset ke level organisasi. Kecerdasan aset (data) bertanya, “Apa yang sedang terjadi?” Kecerdasan proses bertanya, “Apa artinya bagi cara kerja?” Kecerdasan organisasi bertanya, “Apa artinya bagi biaya, risiko, dan investasi?” Dan di ujung rantai itu ada pertanyaan yang tidak dapat diserahkan kepada mesin: siapa yang bertanggung jawab atas langkah berikutnya? Karena itu, human-in-the-loop bukan penghambat otomatisasi, melainkan bagian dari rancangannya.
Fondasinya: kesiapan data
Sebelum masuk ke studi kasus, ada satu hal yang ditekankan: AI hanya dapat membantu sebaik data yang dibacanya. Data historis perlu dibersihkan dan divalidasi, dikumpulkan dari berbagai sumber ke dalam satu sumber yang dapat ditelusuri, dan dihubungkan agar konteks antara vendor, pesanan, dan pengiriman tidak hilang. Konektivitas dan cloud, dua tema yang diusung acara ini, berperan menyiapkan fondasi tersebut.

Memulai dari satu proses
Beberapa pegangan praktis bagi perusahaan yang ingin bergerak melampaui alat AI individual: pilih satu proses ujung ke ujung, bukan satu tugas; pastikan datanya siap; tentukan sejak awal di mana manusia memutuskan dan di mana AI boleh bertindak; dan ukur hasil proses, seperti waktu siklus dan intervensi manual, bukan sekadar jumlah orang yang memakai alatnya.
Pendekatan inilah yang menjadi arah robustapp, platform ERP berbasis Augmented Intelligence yang dirancang untuk kebutuhan operasional dan regulasi bisnis di Indonesia. Dengan robust-AI bekerja di atas data ERP, tujuannya bukan menggantikan keputusan tim, melainkan membantu tim melihat kondisi lebih cepat dan memutuskan dengan dasar yang lebih kuat. Bagi perusahaan yang ingin menelaah proses mana yang paling siap dimulai, tim Penta Sinergi Grup terbuka untuk berdiskusi.
Pelajari bagaimana solusi ERP robustapp yang diperkuat AI membantu perusahaan di Indonesia mengoptimalisasi operasional dan membaca sinyal bisnis secara real-time.
